OSF di Indonesia

Penyelenggaraan Ilahi dalam Provinsi Tritunggal Maha Kudus Indonesia

Biara Gedangan
Biara OSF Pertama di Indonesia

Pengabdian penuh kegembiraan dan kepercayaan akan Penyelenggaraan Ilahi merupakan fondasi atau dasar bagi Kongregasi kami.
Ibu Aloysia Lenders, Pemimpin Jenderal keempat, menanggapi permintaan Mgr Jozef Lijnen, Pastor Paroki St. Yusup Gedangan, untuk mengambil alih Pimpinan Rumah Yatim Piatu di Semarang.
Dua ratus orang suster dari Provinsi Belanda siap siaga untuk diberangkatkan tetapi hanya sepuluh orang yang terpilih.
Dengan kapal layar Jacoba Cornelia, mereka berangkat pada tanggal 9 September 1869. Mereka mengalami banyak kesulitan dalam perjalanan, termasuk salah seorang suster yang sakit, sehingga jumlah suster misionaris menjadi 11 suster. Kesebelas suster OSF Semarang perintis misi di Indonesia adalah:

Kapal Jacoba Cornelia
  1. Sr. Alphonsa Houben, OSF
  2. Sr. Marina Deideren, OSF
  3. Sr. Aurelia van de Pas, OSF
  4. Sr. Lucia Porten, OSF
  5. Sr. Yosepha Wisink, OSF
  6. Sr. Plechelma Scholten, OSF
  7. Sr. Odilia Ten Pol, OSF
  8. Sr. Antonine Reuner, OSF
  9. Sr. Nicole Yacobe, OSF
  10. Sr. Suzanna,Broam, OSF
  11. Sr. Cunigonde, Iding OSF
Kesebelas suster OSF Semarang perintis misi di Indonesia
11 Suster Misionaris Pertama OSF

Berkat perlindungan Penyelenggaraan Ilahi maka pada tanggal 5 Februari 1970 sampailah mereka di rumah yatim piatu Gedangan, Jalan Ronggowarsito 8 Semarang.
Dengan ini dimulailah karya Suster-Suster Santo Fransiskus dari Tobat dan Cinta Kasih Kristiani di Indonesia. Dari Gedangan menyebarlah kerasulan kami, tidak hanya di Jawa Tengah, melainkan sampai jauh ke Timur, pulau Flora dan Fauna (Flores); penyebaran karya ini terhambat oleh pecahnya perang Asia Timur Raya dan masuknya Jepang ke Indonesia pada tahun 1942.

Selama masa pendudukan itu sekolah-sekolah ditutup, rumah sakit di sita. Suster-Suster berkebangsaan Belanda di internir (menjadi tawanan akibat perang). Dengan semboyan Deus Providebit, suster-suster Indonesia melanjutkan segala kepengurusan semua biara berserta karya-karyanya meskipun tidak kecil tantangan yang dihadapi. Mereka tetap setia pada panggilan sebagai putri-putri Ibu Magdalena.

Pengorbanan suster-suster di Camp, antara lain empat puluh orang suster meninggal, termasuk Ibu Hortanse Linder, Pemimpin Komisariat Indonesia, menyuburkan karya Misi sesudah perang dunia II. Bagaikan biji gandum jatuh ke dalam tanah dan mati, lalu tumbuh menghasilkan buah berlipat ganda, demikianlah karya kami menyebar luas dari Jawa ke Barat dan Timur yaitu Sumatra, Bali, Flores, pulau Kei kecil (Langgur), Timor, Timor Leste, Papua Barat, Sumba, Kalimantan dan Sulawesi. Status Misi Indonesia yang semula merupakan Komisariat Provinsi Belanda, pada tanggal 1 Januari 1955 menjadi Provinsi Muda, dengan pimpinan pertama Sr. M. Theophile Boezman.

Provinsi Muda berkembang dalam kualitas dan kuantitas sehingga pada tanggal 22 Desember 1970 menjadi sebuah Provinsi yang berdiri sendiri di bawah perlindungan Tritunggal Maha Kudus dan pada tanggal 22 Juli 1971 Pemimpin Provinsi untuk pertama kali dipegang oleh seorang suster Indonesia asli, yaitu Sr. M. Cecilia Siti Padjarijah.

Demikianlah spiritualitas Fransiskan ditanamkan dan tumbuh di bumi Indonesia melalui kongregasi kami. Sekarang kami mempunyai tanggung jawab untuk melanjutkan semangat dan karya para pendahulu dengan dijiwai oleh semboyan DEUS PROVIDEBIT.